Rabu, 01 September 2010

RENUNGAN PONGAH DARI LABIRIN KOTA.

Sudah lebih dari sekali saya numpang baca Sentana dan koran kota lainnya di warung rokok dekat warung penjual nasi gule di kaki lima itu. Tapi pagi itu, karena tak membelakangi jalan, saya tersadar akan satu hal: di depan saya adalah lorong.

Saya tanya orang-orang apa nama lorong itu. Mereka pun saling tanya. Akhirnya seseorang bilang, “Namanya Gang Sempit.” Oh ya, ada inisial “GS” di mulut gang.

Ini hanyalah satu dari ribuan gang sempit di kampung besar Jakarta yang mengaku sebagai megalopolitan. Gang-gang yang menyerupai labirin.

Tak ada yang istimewa dari gang yang kurang memadai untuk berpapasan ini — bahkan ada ruas yang hanya cukup untuk satu badan pelintas.

Kita semua pernah melihatnya. Bahkan mungkin sebagian dari kita pernah atau masih bermukim di lorong sempit. Tentang gang sempit, teman-teman BHI pasti lebih paham ketimbang saya.

Gang yang tidak istimewa. Tapi di sana ada kehidupan. Sama seperti mansions yang tak semua kamarnya berpenghuni di Pondok Indah, Simprug, dan Pluit sekitar Regatta the Icon : tetap ada kehidupan.


Gang sempit. Miskin sinar matahari. Sumuk. Jamur dan lumut pun berbahagia. Ketika lorong hanya diapit tembok-tembok tak berpintu maka siapa yang dipertuan tak begitu jelas. Dan lihatlah, dari sebuah tembok mencul dua bonggol pipa PVC untuk membuang air. Lorong diperlakukan sebagai got.


 Gang sempit bukanlah pilihan, tapi karena keadaan — lantaran kahanan, kata orang Jawa. Penamaan Gang Sempit pun belum jelas: oleh penghuni gang atau orang luar. Ini persoalan cara pandang. Cara membagi dunia.

Ada ribuan lorong sempit di Jakarta, sebagian bahkan tak bernama. Saya ingat lorong sempit lembab yang diapit dinding berlumut di Kota. Tak ada lampu, gelap kalau malam.

Saya takjub oleh dua hal. Pertama: butuh seni untuk memasukkan perabot, dan juga material bangunan, melalui lorong sempit. Kedua: dari gang sempit beberapa kali saya lihat wanita cantik, putih, berambut lurus, bermata sipit, berpakaian bagus, berjalan bergegas, keluar dan masuk dari sana. Wanita yang berbeda.

Ribuan gang sempit di perkotaan. Sebagian hanya kita lalui karena ada alasan. Sebagai jalan tikus (tanyakan kepada Zen). Sebagai keterpaksaan karena harus menghindar dari, misalnya, huru-hara. Atau harus datang karena mencari alamat — seperti dulu sering saya lakukan ketika bekerja di media. Dari mencari seseorang yang mengiklankan jasa di koran sampai mencari penyedia barang haram (atau juga jasa haram).

Gang-gang sempit itu. Ketika kantor pos belum digilas SMS dan internet, hampir setiap Pak Pos hapal gang-gang di wilayah edarnya. Saya ingat Pak Pos Baru yang sekian lama harus edar tandem mengikuti Pak Pos Lama.

Menyusuri gang sempit, sekadar mengayun kaki dan celingak-celinguk, apalagi memotret tanpa membaur, baik dengan bidikan cermat maupun asal jepret karena memperlakukan kamera saku selayaknya kamera video secara handheld dengan risiko gambar kabur, adalah sebuah kekurangajaran. Asosial.Bersiaplah dengan risiko.

Jika seharian tak ada lelaki muda maupun tua nongkrong di gang berarti banyak orang yang bekerja. Relatif aman.

Gang sempit. Lorong di antara tembok bisu. Itu bagian dari ruang hidup kota. Kita melihat semangat untuk bertahan, untuk merayakan kehidupan. Gadis kecil yang ngempanin anak ayam piaraan.Perempuan yang mengedarkan kue murah. Ibu yang memasak. Lagu dangdut dari stereo sember. Semuanya bersama bau busuk selokan. Dan di atas selokan ada jembatan kecil yang bertemu tembok bolong agar orang tak perlu memutar.

Radikalisme, dan bahkan revolusi, bisa muncul dari penjebolan tembok. Apapun yang tak masuk akal, dari sudut pandang dunia mereka, berarti harus dilawan. Kalau perlu secara destruktif.

Jika persoalan kian serius, kita hanya kaget dan tak paham.

Tak lebih dan tak kurang, posting ini hanya unjuk kepongahan warga kelas menengah yang nanggung dan tak pernah paham masyarakatnya. Jangan bandingkan dengan kesaksian para pekerja sosial yang tarikan napasnya adalah bagian dari persoalan kampung-kampung padat nan kumuh.

Sabtu, 21 Agustus 2010

dari sahabat untuk sahabat

hari ini saya akhirnya menemukan akan arti persahabatan,dan persahabatan itu benar adanya,dan dengan blog ini pula saya bisa bertemu dengan sahabat dari berbagai daerah yang luar biasa baik dengan saya.saya ucapkan terimakasih karena telah rela meluangkan waktunya untuk memberikan kritik,saran dan sekedar mengisi buku tamu.jujur saya gak bisa kasih apa-apa tapi,saya cuma bisa kasih hadiah yang mungkin tidak pantas disebut award,tapi inilah yang bisa saya berikan untuk sahabat.


award ini saya berikan untuk sahabatku:

* Irawati Putri Lestari:dialah sahabat yang selalu member motivasi saya buat terus berbuat baik
* Sakti Ardhika:dialah yang selalu ngajak saya buat bergerilya makanan
* Prima Setya Heryanto:dialah sahabat yang mengingatkan saya tentang arti kehidupan
* Pamerat daroza:yang selalu nebeng
* Gibral Muhammad:yang selalu meluangkan waktunya menjawab keluh kesah saya
* Alan BUdi Afriandi:dialah yang selalu memberikan tip-tip jitu seputaran tempat makan
* Gilang Bhagaskara:dialah blogger yang satu daerah dengan saya.
* Bangbang Salehudin:dialah yang selalu bisa membuat saya tertawa karena tulisan-tulisan diartikelnya
* Andre Yusfian:yang selalu bertingkah konyol setiap bertamu
* Muhammad Zainal:yang sangat religius, tapi ngerokok nya kuat banget
* untuk sahabat


maaf jika awardnya sederhana,soalnya juga baru belajar photoshop jadi ya begitulah adanya.buat sahabatku yang namanya tertera diatas semoga berkenan untuk meminangnya.buat sahabat yang lain silahkan ambil karena award ini saya berikan untuk semua sahabat yang mengunjungi blog persahabatan ini dan saya akan cantumkan nama sahabat diatas,semoga bisa membuat kita terus semangat buat berblogging ria. SALAM PERSAHABATAN

Dari sahabat untuk sahabat

Jumat, 20 Agustus 2010

Persahabatan

Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi. Istilah "persahabatan" menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruisme. selera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka.
Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten:
     Seringkali ada anggapan bahwa sahabat sejati sanggup mengungkapkan perasaan-perasaan yang terdalam, yang mungkin tidak dapat diungkapkan, kecuali dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit, ketika mereka datang untuk menolong. Dibandingkan dengan hubungan pribadi, persahabatan dianggap lebih dekat daripada sekadar kenalan, meskipun dalam persahabatan atau hubungan antar kenalan terdapat tingkat keintiman yang berbeda-beda. Bagi banyak orang, persahabatan dan hubungan antar kenalan terdapat dalam kontinum yang sama.
      Dimulai dari iseng - iseng nongkrong di warung pojok lahir lah sebuah perkumpulan yang sangat asik dan diisi oleh anak" yang serba ingin tahu, imajenatif, kreatif, dan sngat pengertian dalam segala hal. Dan perkumpulan itu di beri nama Decolgen.
      Decolgen itu merupakan sebuah nama dari sekumpulan anak yang mempunyai kesamaan dalam berbagai hal dan mempunyai kesukaan dalam hal jalan - jalan, mendesign gambar, bermusik, dan rata - rata selalu narsis kalo foto. Dari gambar tersebut dapat di caritakan bahwa kami sangat akrab, bahkan sekarang sudah menjadi saudara.Perkumpulan yang di dirikan di atas semua golongan ini di gandrungi oleh Sakti Ardhika, Prima Setya Heryanto, Alan Budi Afriandi, Pamerat Daroza, Irawati Putri Lestari, Ravsanjani Yahya, Gibral Muhammad, Andre Yusfian, Muhammad Zainal, Gilang Bhagasakara, Fikri Mujahid.

I MISS YOU ALL